Jelajah Budaya 2016, Mengenal Sejarah Penting Kabupaten Batang

Mendiskusikan KH Ahmad Rifai di Masjid Nurul Jamal desa Kalisalak kecamatan Limpung

Rabu, 2 Maret 2016, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Batang kembali menggelar kegiatan bertajuk Jelajah Budaya. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin tahunan untuk mengenalkan peninggalan sejarah dan budaya di Kabupaten Batang.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bambang Supriyanto, S.H., M.Hum., pada saat pemberangkatan peserta menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan peninggalan budaya di Kabupaten Batang. Banyak sekali kebudayaan di Kabupaten Batang yang belum dikenal masyarakat Kabupaten Batang. Dengan kegiatan diharapkan pelajar SLTA di Kabupaten Batang mengenal dan mengenalkan kembali ke masyarakat luas.

Pada tahun 2016 ini dilaksanakan di Prasasti Sojomerto desa Sojomerto kecamatan Reban dan Masjid di desa Kalisalak kecamatan Limpung yang pernah digunakan oleh KH Ahmad Rifai (Pahlawan Nasional) untuk berdakwah melawan penjajahan kolonial Belanda. Melibatkan siswa-siswi dari SMAN 2 Batang, SMAN 1 Bandar, SMA A Yani, SMKN 1 Blado, MANU Batang, SMK NU Bandar, SMA BP Batang, SMA Muhammadiyah Tersono, dan SMA Wahid Hasyim Tersono.

Marlis Andriyani, Kasi Museum dan Kepurbakalaan menyampaikan bahwa alasan memilih kedua objek tersebut dikarenakan kedua objek tersebut memiliki peran penting bagi sejarah Kabupaten Batang. Prasasti Sojomerto sebagai bukti bahwa tokoh Dapunta Syailendra yang diyakini sebagai cikal bakal lahirnya Wangsa Syailendra yang kemudian keturunannya menjadi Raja-Raja Mataram Kuno. Dan KH Ahmad Rifai yang merupakan Pahlawan Nasional yang pernah melakukan dakwah di Masjid Nurul Jamal desa Kalisalak kecamatan Limpung.

Di Prasasti Sojomerto, Mulyono Yahman menjadi narasumber diskusi. Disampaikan bahwa penemuan Prasasti Sojomerto mengubah teori sejarah. Sebelum ditemukan prasasti tersebut teori yang berkembang adalah tentang pembagian daerah Wangsa Sanjaya di pulau Jawa bagian utara sedangkan Wangsa Syailendra di bagian selatan. Namun dengan penemuan ini teori pun berubah. Menurutnya prasasti ini sangatlah penting karena proses berdirinya candi Borobudur diawali dengan masuknya Dapunta Syailendra melalui Kabupaten Batang. Batang sebagai pintu peradaban, maksudnya adalah telah terjadi komunikasi antar raja di Jawa Tengah dengan Sriwijaya di masa Syailendra.

Di Masjid Nurul Jamal desa Kalisalak kecamatan Limpung juga tidak kalah menarik. Bambang Ibnu Riyanto menyampaikan bahwa tokoh KH Ahmad Rifai memiliki peran penting pada masa perjuangan yang menggunakan dakwah serta pendidikannya sebagai medianya. Karya buku KH Ahmad Rifai sebanyak 60 judul, yang masing-masing ada yang 3 hingga 4 jilid per judulnya. Banyak karya-karyanya yang sekarang masih di Belanda. Menurutnya seharusnya Perpustakaan Kabupaten Batang memiliki ruangan khusus yang berisikan buku-buku karya Pahlawan Nasional di Kabupaten Batang agar masyarakat Batang dapat termotifasi.

Listiono, perangkat desa Kalisalak menyampaikan bahwa dulu Kalisalak bernama Kalisalah yang kemudian berubah menjadi Kalisasak dan berubah lagi menjadi Kalisalak. Dari peta masa penjajahan kolonial ternyata Kalisalak masuk dalam peta yang luas wilayahnya dari pegunungan Dieng hingga pantai utara Jawa. Menurutnya Kalisalak dahulu menjadi daerah berpengaruh hingga dipetakan oleh kolonial.  

Dahulu masjid Nurul Jamal berbentuk panggung, sekarang telah berubah total. Ukiran-ukiran asli KH Ahmad Rifai masih terpasang di beberapa bagian masjid Nurul Jamal. Salah satunya dituliskan bahwa rehab dilakukan pada tahun 1272H (sekitar 225 tahun yang lalu) berarti umur masjid saat didirikan lebih dari itu.

Hadir juga Sekretaris Camat Limpung, Kusrin, yang menyampaikan bahwa banyak cagar budaya di kecamatan Limpung, harapannya disbudpar dapat menjangkau dan mengelolanya.

Menurut Rahwan Astyo Wibowo, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Batang, karya-karya KH Ahmad Rifai harus diselamatkan, sumber data peta jaman kolonial yang menerangkan Kalisalak kita harus memiliki untuk dapat dijadikan acuan sejarah Kabupaten Batang, dan kita harus meneruskan perjuangannya.


Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke Google Plus

Komentar

Tulis Komentar

Log In Facebook Untuk Tulis Komentar